11 January 2008

Hijrah

Telah terbit rembulan di atas kami
Dari arah Tsaniyyatul Wada’i
Maka bersyukurlah dan panjatkan puji
Atas ajakan yang ia serukan dari Illahi.

Syair berbahasa Arab, yang di kemudian hari dikenal sebagai Shalawat Badr ini, serempak dinyanyikan masyarakat Yatsrib, guna menyambut kedatangan Muhammad ibnu Abdullah dan Abubakar Shiddiq. Berhari-hari, kedua lelaki asal Makkah ini, berkuda dan terkadang berjalan kaki melintasi teriknya padang pasir. Sesekali bersembunyi di balik bukit dan di dalam gua. Bukan sekadar untuk menghindari badai gurun yang ganas, tetapi juga (dan terutama) menghindari para algojo Quraisy yang ditugaskan membunuh Muhammad, Sang Nabi.

Sudah lama penduduk Yatsrib menunggu kedatangan Muhammad. Kabar nubuwatnya telah lama tersiar di kota yang bertetangga dengan Makkah itu. Mereka tahu, penguasa Makkah sangat membenci putra Abdullah ini, karena ajaran monoteismenya, serta-merta menggoyahkan sendi-sendi kehidupan paganisme yang telah tertata berbilang abad. Sementara penduduk Yatsrib, yang terpecah dalam dua kelompok suku besar (Aus dan Khajraj) justru ingin mendengar langsung kabar gembira dari lelaki yang berani menantang arus itu.

Kegembiraan pun meledak dan sorak-sorai pun membahana, ketika akhirnya Muhammad tiba di Yatsrib bersama sahabatnya yang paling setia. Kedatangannya diibaratkan mereka sebagai sinar purnama yang teduh, yang menerangi dan menghangati relung-relung hati. Nama Yatsrib pun kemudian berganti menjadi Madinah, kependekan dari kata Madinatunnabiy (Kota Nabi) atau Madinaturrasul (Kota Rasul).

Keberangkatan Nabi Muhammad SAW (bersama Abubakar Shiddiq) dari Makkah menuju Madinah (sekitar 13-24 September September 622 Masehi) itulah yang kemudian dicatat sejarah sebagai Hijratunnabiy atau Hijraturrasul. Tujuh belas tahun kemudian, bertahun-tahun setelah wafatnya Muhammad Rasulullah, Khalifah Umar ibnu Khattab (setelah berembuk dengan para sahabat lainnya) mencanangkan peristiwa hijrahnya Sang Nabi, sebagai awal Tarikh (kalender) Hijriyyah (1 Muharram), yang sistem penanggalannya didasarkan pada peredaran lunar (bulan). Berbeda dengan Tarikh Masehi yang berpatokan pada sistem peredaran solar (matahari). Orang-orang Arab, juga menamakan Tarikh Hijriyyah sebagai Tarikh Qomariyyah dan Tarikh Masehi sebagai Tarikh Syamsiyyah.

Karena peredaran bulan mengelilingi bumi lebih singkat daripada peredaran matahari, maka satu tahun Hijriyyah lebih pendek 11 hari dibandingkan satu tahun Masehi. Hijriyyah, 354 hari. Masehi, 365 hari. Sehingga dalam satu abad, terdapat selisih sekitar tiga tahun, antara Hijriyyah dan Masehi. Yang juga perlu dicatat, walau awal kalender Hijriyyah dimulai dengan tanggal 1 Muharram, peristiwa Hijrah Nabi (jika dihitung mundur) sebenarnya terjadi pada 1 Rabi’ul Awwal.

Pencanangan kalender Hijriyyah oleh Umar ibnu Khattab, lebih bernilai sosio-kultural dan historis ketimbang religi. Sehingga dalam perayaannya pun, peringatan 1 Muharam tidak semeriah Idul Fitri dan Idul Adha yang kental dengan nilai-nilai ibadah. Jika dibuat peringkat, peringatan 1 Muharram sama peringkatnya dengan peringatan Maulid Nabi. Dengan demikian, tanggal 1 Muharram, mungkin lebih tepat disebut sebagai “Tahun Baru Orang Islam” bukan “Tahun Baru Islam”.

Beberapa ahli sejarah, bahkan menyebut Tarikh Hijriyah sebagai “Kalender Arab-Islam”, untuk memberi ruang adanya kalender orang Islam lainnya di luar Arab. Orang Jawa-Islam misalnya, mempunyai kalender sendiri (paduan antara Tahun Saka dengan Tahun Hijriyyah). Sehingga nama-nama bulannya pun agak berbeda. Bulan Muharam menjadi bulan Syuro, bulan Sya’ban menjadi bulan Ruwah, dan lain sebagainya.

Yang lebih memiliki nilai religi, adalah peristiwa Hijrah Nabi itu sendiri, yang bisa dimaknai sebagai perjalanan meninggalkan kesengsaraan menuju kebahagiaan; perjalanan meninggalkan keputusasaan menuju optimisme; atau perjalanan meninggalkan keburukan menuju kebaikan. John L. Esposito, dalam The Oxford Encyclopedia of the Modern Islamic Word, Volume 2 (Oxford University Press, 1995), melukiskan peristiwa Hijrah Nabi sebagai, “Penolakan simbolis terhadap rasa putus asa dalam menghadapi penindasan dan pelanggaran terhadap kebebasan beragama (di Makkah). Sehingga keputusan meninggalkan lingkungan yang menindas menuju lingkungan yang lebih kondusif (Madinah) merupakan pilihan tepat.”

Yang lebih menarik untuk dikaji dan diteladani, adalah apa yang dilakukan Muhammad Rasulullah di Madinah bersama para sahabatnya (yang berangsur-angsur ikut berhijrah). Madinah adalah sebuah kota oase yang berpenduduk multi-etnis dan multi-agama. Penduduk aslinya adalah orang Arab dari Suku Aus dan Khajraj yang kemudian masuk Islam, serta Arab-Nasrani dan Arab-Yahudi. Lalu datanglah orang-orang Islam dari Makkah yang disebut Muhajirin (orang-orang yang berhijrah) -- untuk membedakannya dengan Islam Madinah yang disebut kaum Anshor (para penolong).

Rasulullah yang bijaksana itu, berdiri di tengah, untuk memelihara kehamonisan dan menyelaraskan keberagaman. Semua penduduk Madinah, baik itu kaum Muhajirin, Anshor, maupun Yahudi dan Nasrani, diberinya hak yang sama, termasuk diberi kebebasan untuk beribadah sesuai keyakinan agama masing-masing, dalam perlindungan Sang Rasul. Masing-masing pihak dilarang saling mengganggu.

Rasulullah yang welas asih itu, tidak hanya toleran dalam menyikapi berbagai perbedaan. Tetapi bahkan (lebih jauh dari itu) sangat menghormati perbedaan. Perbedaan dinilainya sebagai rahmat (karunia) Tuhan, karena Islam adalah “rahmat bagi seluruh alam,” yang juga berarti “rahmat bagi seluruh manusia” (dengan segala kebhinekaannya).

Kepada seluruh penduduk Madinah yang multi-etnis dan multi-keyakinan itu, Rasulullah Muhammad SAW berujar, “Hendaklah engkau memberi makan, mengucapkan salam kepada siapa pun yang engkau kenal maupun tidak engkau kenal. Kalian belum bisa disebut beriman, sebelum mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.” (Hadis Riwayat Imam Bukhari).

Jadi mengapa kita tidak meneladani Rasulullah yang humanis dan pluralis itu? Yang dilukiskan Al-Barzanji sebagai laki-laki yang gagah, berwajah cerah dan jernih, murah senyum dan senantiasa berutur lemah lembut. Rasulullah yang Suci dan Disucikan Allah itu sangat membenci anarkisme. Jika kemudian muncul peperangan dalam perjalanan sejarahnya, itu lebih karena untuk membela diri dari musuh-musuhnya yang ingin membunuh Rasulullah dan para pengikutnya.

Akhirul kalam, segala puji hanya buat Allah yang telah mengutus Muhammad. Limpahkanlah shalawat dan salam bagi Rasulullah, serta para kerabat dan sahabatnya. Selamat menyambut tahun baru 1 Muharram 1429 Hijriyyah.

1 comment:

anakbaikbaik said...

subhanallah...
^_^

go enda,go enda,go!!!